Feeds:
Posts
Comments

200px-inglourious_basterds_poster2Saya suka sekali dengan Quentin Tarantino, dan temannya Roberto Rodriguez. His best film for me is Pulp Fiction, his best action is naturally Kill Bill 1 and 2. Sekarang, bayangkan Quentin Tarantino sedang finishing sebuah film action bertema World War II. Ngga kebayang kan? Saya menunggu surprise ala Tarantino. 

Ensemble keren dengan Brad Pitt (yang lehernya ada bekas gantungan) yang kembali bermain dengan Diane Kruger (si cantik Helen dari Troy), Eli Roth sebagai psikopat dengan baseball bat, lalu ada Til Schweiger! Mungkin di Indo, Til Schweiger ini kurang dikenal, tapi di negara asalnya, Jerman, dia termasuk bintang terkenal dengan nada suara yang khas. Dalam film The Red Baron (2008) dia berperan sebagai Werner Voss. Oh yah, ada Maggie Cheung! Ngga aneh sih karena Tarantino memang fan berat film aksi asia terutama Hongkong. Ada lagi sang komedian Mike Myers, dan narasi oleh Samuel L. Jackson.

Ceritanya Brad Pitt memimpin sekelompok tentara Jewish-American yang disebut Basterds untuk membunuhi para Nazi di Perancis yang sedang dijajah Jerman-NAZI. 

Rencananya film ini akan dirilis Agustus 2009.

I can’t wait for this movie. What will we get from Tarantino?

Let us pray, and wait, and pray again, for the first world war II movie with Tarantino bloody sauce!!

200px-body_of_lies_posterBody of Lies (BoL) merupakan film spy (tentang CIA) yang dibuat dengan expertise Ridley Scott yang tinggi dalam menampilkan film yang enak ditonton, dengan materi dari Novel karangan David Ignatius yang lumayan kompleks. Tapi sayang film ini belum masuk dalam daftar film spy terbaik pribadi saya; oh yah, film spy terbaik bagi saya masih Three Days of The Condor (1975, Sutradara Sydney Pollack, pemeran utama Robert Redford), dari sisi twist cerita dan thrill-nya saat kita menonton.

Spoilers alert!! Jangan baca paragraf berikut bila Anda tidak ingin filmnya menjadi spoiled  bagi Anda 🙂

Kembali ke BoL, secara keseluruhan cerita yang ditampilkan menarik, bahkan romantisme antara Roger Ferris (Leonardo de Caprio), sang agen CIA dengan Aisha (Golshifteh Farahani) dibuat tidak “murahan” oleh Ridley Scott. Sayang beberapa klimaks dalam film dibuat begitu simplistik. Beberapa twist dalam film sudah bisa ditebak, bahwa Aisha akan menjadi “umpan” bagi Ferris, bahwa kita menebak Ferris pasti akan diselamatkan in the nick of time, dan kemungkinan besar penyelamatnya adalah Hani (Mark Strong), sang kepala Intelijen Yordania. How come every other non-american die easily one after another, but the sole CIA Agent survive all these?

Lalu peristiwa penangkapan tokoh antagonis utamanya begitu sederhana, apakah sedemikian mudah mereka bisa menangkap sang tokoh?  Ini lumayan mengganggu, at least American cinema could give their country’s enemy the respect and credits of being not easy to be caught in the real life.

Spoiler alert ends.

Terakhir yang saya sayangkan adalah peranan Russel Crowe sebagai Ed Hoffman dalam film ini terasa kurang tergali, he was just being an a-hole, selfish egomaniac, but then what? Tidak ada peranan significant yang mengubah sesuatu dalam plot cerita sehingga dia bahkan bisa ditampilkan sebagai tokoh yang ada dalam cerita tapi tak perlu ditampilkan di layar. It was such a waste of Crowe’s talent.

Film ini adalah film yang enak ditonton sebagai hiburan, jalur ceritanya lumayan linear dan fokus pada seseorang,  tidak serumit dan berlapis-lapis seperti Syriana (2005, film CIA juga dengan George Clooney dan Matt Damon). Tapi jangan mengharapkan terlalu banyak. Just sit and enjoy it as an ordinary spy movie.

200px-slumdog_millionaire_posterdaun_di_atas_bantalJauh sebelum gegap gempita Slumdog Millionaire (SM), sebenarnya Indonesia telah memiliki Daun di Atas Bantal (DdAB) oleh Mas Garin. Dan saat saya dan istri menonton SM, kami sontak langsung ingat pada DdAB yang juga kami tonton bersama satu dekade yang lalu.

Mau membandingkan SM dengan DdAB, atau Oom Dyle VS Mas Garin? Itu bukan tema tulisan ini kok, tapi saya benar-benar terpancing untuk men-sandingkan kedua film ini.

Mumbay (dulu kita kenal sebagai Bombay kan?) dalam SM, bukankah sangat mengingatkan kita dengan Jakarta? Saya yakin cerita Jamal, Salim, dan Latika akan bisa kita temukan di berbagai kolong jembatan ibukota. Mas Garin menampilkan secuplik kisah serupa, meskipun di Yogyakarta, mungkin karena sebagai kontras atas Yogya sebagai basis kultur penting di Jawa? Itu hanya spekulasi saya, tapi tema yang dibawakan memiliki kesamaan yang khas.

Yang pasti saat menonton kedua film tersebut, perasaan jadi terasa down, sedih. Bahkan banyak penonton yang berkaca-kaca, misalnya saat Jamal bertemu dengan temannya yang masih menjadi pengemis buta dan menceritakan tentang Benjamin Franklin pada uang 100 Dollar Amerika.

Tetapi, kami berdua ingat sekali bahwa perasaan kami lebih sedih sesudah menonton DdAB, karena Mas Garin, dan Mbak Christine Hakim (yang juga producer filmnya) menampilkan suasananya dengan penuh ketelanjangan brutal kejamnya kehidupan. Doyle, mungkin dengan perhitungan bisnis dan selera penonton barat, membungkus kisahnya dengan Cinderella story dan romansa lost love found, dengan akhir yang Happy End, dengan kemenangan tokohnya atas kejamnya kehidupan. Ini suatu yang sangat membedakan perasaan kita saat menontonnya.

Satu persamaan kedua film ini adalah menggunakan pemeran cilik yang memang berasal dari kalangan anak jalanan. Kita tahu bagaimana pemeran Jamal dan Salim bahkan diajak ke Oscar, juga mereka mendapatkan semacam trust fund untuk masa depan mereka. Saya jadi tertarik bagaimana dengan pemeran cilik di film DdAB yah? Bukankah mereka sekarang sudah jadi pemuda-pemuda? Di manakah mereka?

Salute buat Oom Doyle dan Mas Garin yang membawa secuplik kisah dari bawah ini dengan gaya mereka masing-masing.

Salute for humanity.

200px-punisherwarzoneteaser1Kita sudah mengenal 3 film Punisher: Dolph Lundgren di tahun 1989, lalu di-reboot dengan Thomas Jane dan John Travolta yang mengecewakan di tahun 2004 (more to it later), akhirnya kini kembali  di-reboot dengan Ray Stevenson dalam film Punisher: War Zone.

And I must say, till now, Ray Stevenson is THE best Punisher. EVER!!

Dolph Lundgren memerankan Punisher terlalu Dolph Lundgren sekali, sehingga gregetnya jadi berubah, much like a Van Damme movie. It was a good action film, tapi seluruh aura Punisher dari komiknya, karakter Frank Castle yang kita kenal, absen total, tidak ada sama sekali dalam film tahun 1989 ini. Bahkan sebagai anak remaja tahun itu yang sering membaca komik Punisher gratis di Gramedia pun saya kecewa!

Antisipasi saya  lumayan terbangun saat menunggu film th. 2004 dengan Thomas Jane dan John Travolta, walau tetap dengan sedikit “tabungan” untuk siap-siap kecewa lagi. Dan ternyata memang, dalam film itu, karakter Frank Castle oleh Thomas Jane kalah bersaing dengan karakter antagonistiknya John Travolta. Karakter Frank Castle sesudah menjadi Punisher masih terasa “manis”. Belum menampilkan karakter Frank Castle sedingin es seperti dalam komiknya. Mungkin juga karena dia terlalu banyak bicara. It was a way much improvement from 1984’s movie, but it was still not the Frank Castle which I have grown up with.

Then came Ray Stevenson!

Saya memang sudah suka dia sejak Rome di HBO, karakternya sederhana, lugu, tapi berani. Jujur, saya hampir tidak memperhatikan dia sama sekali di King Arthur (2004, bersama Keira Knightley dan Clive Owen), tapi dalam Punisher ini, dia sangat PAS, COCOK, KLOP sekali menampilkan Frank Castle yang saya kenal dari berbagai komiknya sejak SMP!

Akhirnya datang Frank Castle yang dingin seperti es, yang bicaranya bisa dihitung jari, yang sinis, yang siap membunuh penjahat tanpa peduli apapun, bahkan terasa bahwa dia mungkin menikmati aksi sadisnya. Yang tanpa ampun terhadap yang jahat tetapi siap melindungi yang baik dan lemah. Ini baru punisher, yang begitu “mati” hatinya sehingga baru menyadari bahwa dia sebenarnya suka dengan wanita pemberani yang menemaninya saat dia akhirnya mati di padang pasir dan menitipkan pesan balas dendamnya. 

Karakter Frank dalam film ini cukup pragmatis sehingga siap mengorbankan temannya untuk menolongsang gadis kecil dan ibunya. (Memang di seri komiknya, Frank dengan darah dingin menembak mati Microchip, sebagai hukuman atas “pengkhianatan”nya). 

This is Frank Castle that I have been missing from the screen all this time.

All thumbs up for Ray Stevenson as Punisher. Up till now, he is the best Punisher. EVER!!

Please deh Marvel, stop rebooting the Punisher genre now, now that you have a punisher that a lot of comic fan loved, just continue the series!

So, bagi yang merasa Fan Punisher dan belum sempet nonton filmnya, go get it!!

Pasti ngga akan kecewa dengan Punisher terakhir ini.