Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Drama’ Category

200px-seven_pounds_posterSetelah Slumdog Millionaire, saya dan keluarga ingin mencari hiburan yang lebih ringan…. yang tidak bikin sedih, mungkin drama ringan seperti A Good Year (2006 oleh Ridley Scott dengan Russel Crowe dan Marion Cotillard). Tapi sayangnya saat ini belum ada kayaknya yah yang seperti itu, jadi pilihan jatuh pada Seven Pounds (SP), film teranyar dari Will Smith.

Will Smith sepertinya ingin mengulangi sukses dramanya setelah drama kisah nyata The Pursuit of Happyness (2006). Ia kembali menunjukkan bahwa ia pun bisa berakting dalam drama serius, non action comedy ala Bad Boys atau Hancock atau Independence Day.

Seven Pounds bercerita tentang kebaikan, tentang seseorang yang ingin “menebus dosa”nya. Will Smith hadir sebagai seorang Rocket Engineer lulusan MIT yang mencuri identitas IRS (Petugas Pajak) adiknya untuk mencari orang-orang yang dapat dibantunya. I dont want to spoil you the film, so I will stop here.

Bagi banyak orang, film ini sayangnya akan terasa lamban dan penuh pertanyaan, terutama di satu jam pertama film ini. Makin lama kita makin menyadari apa yang sedang dilakukan tokoh Will Smith (Tim menyamar sebagai Ben, adiknya). Oh yah, kita mulai bisa membayangkan akhir dari film ini begitu kita lebih mengenal masalah dari tokoh Rosario Dawson.

This film is not necessarily a romantic film. Plot ceritanya sebenarnya sangat sederhana begitu penonton menyadari kronologis peristiwa yang terjadi. Bukan hiburan sejenis yang kami cari sih – ceritanya tidak memiliki banyak kurva tegang dan haru seperti The Pursuit of Happyness.

Akhir-akhir ini memang jarang film ringan yang “make us feel good” sesudahnya yah. Seven Pounds bukan salah satunya. Untungnya film ini didukung oleh berbagai pemeran yang menaikkan kualitas film ini, Rosario Dawson sebagai peran utama wanita, Woody Harrelson sebagai seorang pianis buta, Barry Pepper sebagai teman Tim/Ben, dan Connor Cruise (putra angkat Tom Cruise dan Nicole Kidman) sebagai Tim kecil.

Oh yah, bagi yang bingung sesudah menonton, kok kayaknya judulnya ngga nyambung: Judul film ini mengacu pada drama Shakespeare yang terkenal, The Merchant of Venice (juga sudah difilmkan tahun 2004 dengan Al Pacino). Dalam film itu Antonio, dituntut untuk membayar hutangnya dengan dagingnya. Dalam film ini, Seven Pounds (7 pon, setara dengan 3,5 KG) adalah jumlah yang “dibayar” oleh Will Smith untuk menebus “hutang”nya.

Just Kidding: Moral terpenting film ini adalah: Jangan membaca dan membalas Blackberry Anda sambil menyetir mobil!!

Enjoy this not so light film!

Read Full Post »

200px-slumdog_millionaire_posterdaun_di_atas_bantalJauh sebelum gegap gempita Slumdog Millionaire (SM), sebenarnya Indonesia telah memiliki Daun di Atas Bantal (DdAB) oleh Mas Garin. Dan saat saya dan istri menonton SM, kami sontak langsung ingat pada DdAB yang juga kami tonton bersama satu dekade yang lalu.

Mau membandingkan SM dengan DdAB, atau Oom Dyle VS Mas Garin? Itu bukan tema tulisan ini kok, tapi saya benar-benar terpancing untuk men-sandingkan kedua film ini.

Mumbay (dulu kita kenal sebagai Bombay kan?) dalam SM, bukankah sangat mengingatkan kita dengan Jakarta? Saya yakin cerita Jamal, Salim, dan Latika akan bisa kita temukan di berbagai kolong jembatan ibukota. Mas Garin menampilkan secuplik kisah serupa, meskipun di Yogyakarta, mungkin karena sebagai kontras atas Yogya sebagai basis kultur penting di Jawa? Itu hanya spekulasi saya, tapi tema yang dibawakan memiliki kesamaan yang khas.

Yang pasti saat menonton kedua film tersebut, perasaan jadi terasa down, sedih. Bahkan banyak penonton yang berkaca-kaca, misalnya saat Jamal bertemu dengan temannya yang masih menjadi pengemis buta dan menceritakan tentang Benjamin Franklin pada uang 100 Dollar Amerika.

Tetapi, kami berdua ingat sekali bahwa perasaan kami lebih sedih sesudah menonton DdAB, karena Mas Garin, dan Mbak Christine Hakim (yang juga producer filmnya) menampilkan suasananya dengan penuh ketelanjangan brutal kejamnya kehidupan. Doyle, mungkin dengan perhitungan bisnis dan selera penonton barat, membungkus kisahnya dengan Cinderella story dan romansa lost love found, dengan akhir yang Happy End, dengan kemenangan tokohnya atas kejamnya kehidupan. Ini suatu yang sangat membedakan perasaan kita saat menontonnya.

Satu persamaan kedua film ini adalah menggunakan pemeran cilik yang memang berasal dari kalangan anak jalanan. Kita tahu bagaimana pemeran Jamal dan Salim bahkan diajak ke Oscar, juga mereka mendapatkan semacam trust fund untuk masa depan mereka. Saya jadi tertarik bagaimana dengan pemeran cilik di film DdAB yah? Bukankah mereka sekarang sudah jadi pemuda-pemuda? Di manakah mereka?

Salute buat Oom Doyle dan Mas Garin yang membawa secuplik kisah dari bawah ini dengan gaya mereka masing-masing.

Salute for humanity.

Read Full Post »