Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2009

222555_631932720_kiqplbtrAfter some quite negative reviews, let me push a nice smiling one. Sekali ini kita main-main dengan Anime, sebuah film dari tahun 2007 yang baru saya dapatkan kemarin. Film ini sepertinya tidak diputar di bioskop dan memang rada “susah” dicari, tapi bagi pecinta anime dan samurai film pasti tidak akan mengecewakan. Omong-omong memang jarang yah Anime di putar di bioskop kita, maybe Blitz bisa mulai lebih sering menampilkan Anime? Logikanya kalo film-film animasi 2D lalu 3D Disney saja laku keras di bioskop, masak Anime bisa ngga?

Film ini menceritakan tentang seorang anak kecil bernama Kotaro yang dikejar-kejar oleh serombongan pendekar dari negeri Ming Cina, dan penguasa benteng di salah satu provinsi Jepang di jaman Sengoku Jidai (abad 15 sampai awal abad 17 M). Dalam perjalanannya Kotaro dengan anjingnya Tobimaru dibantu oleh seorang samurai misterius tanpa nama yang disebut “Nanashi”. Samurai ini telah bersumpah untuk tidak lagi menggunakan pedangnya untuk membunuh. Oh yah, lucunya musuh terhebatnya dalam film ini ceritanya adalah seorang bule! bermata biru bernama Rarou yang merupakan salah satu pemimpin pendekar Ming.

Plot cerita yang ditampilkan sebenarnya sederhana, tetapi gaya penceritaannya manis dan secara visual film ini sangat baik. Adegan cepat seperti berkuda dan pertarungan ditampilkan dengan menawan meski sering cukup brutal dan banyak darah (not suitable for children?). Visual yang menarik juga adalah beberapa adegan ditampilkan dari sudut pandang orang pertama seperti First Person Shooter game. Gabungan antara animasi 2D dan 3D dalam film ini dibuat begitu seamless sehingga kita jadi sulit membedakannya.

Bagi pecinta film Samurai atau Manga Samurai, mungkin melihat kesamaan cerita di sini dengan Manga th 70an (yang telah difilmkan juga) yaitu Lone Wolf and Cub dengan Itto Ogami bersama anak balitanya Daigoro. Tetapi cerita dalam film ini lumayan riil juga untuk melupakan kesamaan tersebut.

If you are an anime fan, find this film.

If you are a samurai film fan, find this film.

It will be a very nice experience.

Read Full Post »

startrekposterEnough lah for the negative review yah. Let’s think positively now.

Let me write about one movie, in which I put great expectations. STAR TREK, the reboot version, coming May 2009. Sebentar lagi. Saya sudah download comic prequelnya (4 jilid) di iPhone saya. Saya sudah men-download semua Trailernya dari Apple Trailers. Saya terharu saat membaca cerita mengenai sneak preview kejutan di Austin yang dihadiri oleh Spock, er sorry, Leonard Nimoy sendiri. Saat ini saya tak sabar menunggu film ini main di Jakarta!

Semua review sampai saat ini rata-rata memuji film ini. JJ Abrams, yang sebelumnya telah membesarkan Alias dan Lost, kini berhasil mengguncang dan mengembalikan excitement pada franchise Star Trek ini. Kekhawatiran para fans sebagian besar telah luluh, at least yang beruntung telah menonton duluan. Banyak yang menyatakan ini film Star Trek layar lebar paling menegangkan sejak Star Trek II: The Wrath of Khan (1982).

Catatan kecil untuk parade pemerannya, saya lumayan suka dengan Zachary Quinto sebagai Sylar, tetapi saya benar-benar bakal nge-fan dengan dia sebagai Spock muda! He was born for this role!

Ya, saya punya harapan yang tinggi pada film ini, semoga reviewnya nanti benar-benar seperti yang diharapkan.

Read Full Post »

I hate it when I have to give negative reviews, tapi memang akhir-akhir ini film-film yang ditonton rata-rata kurang memuaskan yah? Terakhir sejak Dark Knight tahun lalu, saya belum lagi merasaka405px-knowingposter08n suatu excitement dan thrill di film-film bioskop baru. Saat mau nonton Knowing ini, saya jujur memiliki ekspektasi yang lumayan. Hal ini terutama disebabkan oleh trailernya juga yah, plot yang ditawarkan terasa menarik.

Sebenarnya film ini menawarkan banyak adegan-adegan yang dibuat dengan craftmanship tinggi, dengan bantuan CG terakhir, sang sutradara, Alex Proyas, berhasil menampilkan adegan 5 menit pertama yang benar-benar horor, juga adegan kecelakaan pesawat dan sesudahnya serta adegan kecelakaan kereta apinya benar-benar terlihat brutal dan tanpa kompromi. Adegan bencana terakhir mengingatkan kepada berbagai film kiamat lainnya ala Terminator tetapi tetap patut diacungkan jempol.

SPOILER ALERT!!

Sayang semua ini hanya menjadi pelipur atas cerita yang terlalu “digampangkan”. Promise akan plot yang menegangkan jadi hilang sejak munculnya beberapa oknum, yang jelas-jelas predictable merupakan alien. Saya menyayangkan sekali Alex Proyas, yang berhasil mengusung berbagai film “action pintar” seperti The Crow (1994), Dark City (1998), dan yang paling terkenal mungkin I, Robot (2004 dengan Will Smith), dalam film ini seperti menggampangkan ceritanya. Solusi atas misterinya begitu gampang, begitu jelas. Ayolah Alex, menggunakan alien seperti itu sebagai jawaban atas misteri yang dibangun begitu menyeramkan seperti menyapu dan menaruh kotoran di dalam karpet. Hanya mencari jalan pintas saja.

Visual yang begitu memukau menjadi pudar dengan cerita yang “digampangkan” begini. Film ini bukanlah film yang jelek. By far saya masih lebih puas melihatnya dibandingkan Dragonball Evolution kemarin. Dan rekan-rekan sekerja yang ikut juga bingung mengkategorikan ini film bagus atau jelek. Decide yourself.

PS: Mungkin akan lebih baik dan menegangkan apabila semua plot alien baru dimunculkan jauh di akhir cerita yah? Mungkin.

Read Full Post »

Dragonball Evolution Poster

I went to this movie knowingly that it would not be good. But I am bringing my 5 years old Daughter, and there was only this one choice for her 😦

I read about Dragonball fans screaming for blood after seeing the movie, so how bad is it gonna be?

Ternyata memang yahh jelek… Apabila film ini judulnya lain, misalnya “Bule Boy learning to use Ki against Alien” mungkin film ini okay lah untuk entertainment, lumayanlah untuk ngajak anak-anak (walau ternyata tetap saja berat buat anak umur 5th yah).  Jadi seperti film The Forbidden Kingdomnya Jet Li (2008), yang mereka-ulang legenda Sun Go Kong, ngga bagus, tapi lumayanlah buat hiburan anak-anak.

Tapi ini beda, berhubung film ini membawa nama besar (its a huge franchise all around the world lho!) DRAGONBALL, kita tentunya membawa banyak imej dari manga dan film kartunnya menonton film  ini, sedikit banyak tentunya jadi membandingkan dan prejudice. Dan ini semua menjadikan penilaian negatif meskipun harus diakui sangat subyektif.

Saya setuju dengan keluhan beberapa kritisi bahwa Chow Yun Fat terlihat “over-acting” di sini. Apalagi bila para penonton dari belahan barat sana, kurang terbiasa melihat Chow Yun Fat dalam komedi. Film-filmnya sejak di Replacement Killer hingga Bulletproof Monk, juga film asia nya Curse of The Golden Flower semuanya menampilkan Chow yang tegas, berwibawa dan jelas-jelas tidak melucu. Sehingga mungkin terasa aneh bagi mereka melihat Chow tiba-tiba jadi begini.

Bagi kita yang memang fans Hong Kong Cinema, mungkin tidak terlalu aneh dengan actingnya seperti ini, saya malah jadi teringat saat-saat dulu dia sering tampil konyol, misalnya pada film komedi Diary of a Big Man, Once a Thief, dan film yang membuat saya menjadi fan seumur hidupnya: God of Gambler. Terutama di terakhir Chow bisa dengan segar memainkan karakter yang tegas tapi bisa juga tampil blo’on.

Mungkin kendala bahasa inggris menjadi kan acting komedinya rada aneh yah?

Anyway, pesannya: film ini bukan untuk Fans Sejati Dragonball, kalo mau nonton ini, jangan dianggap film Dragonball deh, at least dengan demikian lebih bisa enjoy.

Read Full Post »