Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2009

hard_boiled_dvd_front_353Sambil nunggu Chow Yun Fat tampil di film live action Dragon Ball, mari kita ulas salah satu film terbaiknya, at least bagi saya :-). Jauh sebelum sekarang lazim dilihat dalam berbagai film action Hollywood, dari Matrix sampai Punisher: War Zone, two guns action mulai dipopulerkan oleh John Woo dan Chow Yun Fat, aktor favoritnya, di era tahun 80an terutama lewat rangkaian film A Better Tomorrow (di Indonesia diberi judul Gangland Boss).

Bagi banyak orang film action terbaik John Woo di era Hong Kongnya adalah The Killer (1989 dengan Chow Yun Fat dan Sally Yeh), tapi bagi saya film terbaiknya di Hong Kong adalah Hard Boiled (1992). Ini merupakan kolaborasi terakhir John Woo dan  Chow Yun Fat saat itu (pra Hollywood), sehingga mereka berdua all-out dalam adegan-adegan action film ini. Duet mereka ini mengingatkan akan duet Akira Kurosawa dan Toshiro Mifune, yang saling mendukung satu sama lain, untunglah perpisahan mereka diakhiri dengan suatu hit yang lumayan sukses dan di banyak pecinta fil action Hong Kong menempati posisi khusus. Film ini juga didukung oleh Tony Leung yang mampu menyaingi Chow Yun Fat dengan gayanya yang kalem (yang kini seperti menjadi “trade mark”nya dalam Red Cliff, 2046, dan In The Mood for Love).

Dalam film ini, Chow Yun Fat berperan sebagai seorang polisi bernama Tequila, seorang Dirty Harry ala Hong Kong, jago tembak dan selalu membuat pusing atasannya. Tony Leung berperan sebagai seorang polisi dalam penyamaran (dengan atasan yang sama), yang ditampilkan benci membunuh tetapi harus sering membunuh sebagai anggota Triad (mafia Hong Kong) yang terlibat persaingan dalam menjual senjata api. Karakter Tony membuat origami bangau setiap kali ia membunuh seseorang sebagai tanda penyesalannya.

Film ini full packed with action, bahkan sejak lima menit pertama, kita sudah disuguhi dengan adegan tembak-menembak yang dibuat sangat piawai di rumah minum teh. Sisi dramanya jadi sedikit kurang terpoles atau menjadi rada kurang menonjol karena padat dan sempurnanya actionnya, tetapi John Woo berhasil memasukkan beberapa sentuhan menarik.

Misalnya saat Tony Leung dipaksa tokoh Antagonis utama untuk menghabisi Boss nya dan semua anak buahnya, dramanya lumayan terbangun baik dan ini merupakan highlight bagi Tony Leung, saat menembak dengan mata berkaca-kaca. Sentuhan lain yang manis adalah bahwa jago tembak utama (bermata satu) sang tokoh Antagonis nya adalah seorang bandit yang kejam, metodologis, cool, tapi gentleman, saat adegan duel klimaks dengan pistol bersama Chow Yun Fat, mereka berdua meletakkan senjata dan melakukan “gencatan senjata” agar pasien-pasien yang terjebak dalam pertarungan mereka bisa mengungsi (action klimaks berlokasi di sebuah rumah sakit). Ia juga menolak untuk menembaki pasien saat diperintahkan oleh Bossnya (yang berakibat fatal bagi dirinya sendiri).

Bagi yang capek melihat action film Hollywood yang begitu-begitu saja, cobalah bernostalgia kembali dengan film ini, dan saya yakin Anda tetap akan puas, seperti kembali ke kampung halaman dan mencicipi kembali makanan kedai favorit Anda 😉

Oh yah, Hard Boiled di Indonesia dulu dipasarkan dengan judul Master Gunman.

Advertisements

Read Full Post »

200px-seven_pounds_posterSetelah Slumdog Millionaire, saya dan keluarga ingin mencari hiburan yang lebih ringan…. yang tidak bikin sedih, mungkin drama ringan seperti A Good Year (2006 oleh Ridley Scott dengan Russel Crowe dan Marion Cotillard). Tapi sayangnya saat ini belum ada kayaknya yah yang seperti itu, jadi pilihan jatuh pada Seven Pounds (SP), film teranyar dari Will Smith.

Will Smith sepertinya ingin mengulangi sukses dramanya setelah drama kisah nyata The Pursuit of Happyness (2006). Ia kembali menunjukkan bahwa ia pun bisa berakting dalam drama serius, non action comedy ala Bad Boys atau Hancock atau Independence Day.

Seven Pounds bercerita tentang kebaikan, tentang seseorang yang ingin “menebus dosa”nya. Will Smith hadir sebagai seorang Rocket Engineer lulusan MIT yang mencuri identitas IRS (Petugas Pajak) adiknya untuk mencari orang-orang yang dapat dibantunya. I dont want to spoil you the film, so I will stop here.

Bagi banyak orang, film ini sayangnya akan terasa lamban dan penuh pertanyaan, terutama di satu jam pertama film ini. Makin lama kita makin menyadari apa yang sedang dilakukan tokoh Will Smith (Tim menyamar sebagai Ben, adiknya). Oh yah, kita mulai bisa membayangkan akhir dari film ini begitu kita lebih mengenal masalah dari tokoh Rosario Dawson.

This film is not necessarily a romantic film. Plot ceritanya sebenarnya sangat sederhana begitu penonton menyadari kronologis peristiwa yang terjadi. Bukan hiburan sejenis yang kami cari sih – ceritanya tidak memiliki banyak kurva tegang dan haru seperti The Pursuit of Happyness.

Akhir-akhir ini memang jarang film ringan yang “make us feel good” sesudahnya yah. Seven Pounds bukan salah satunya. Untungnya film ini didukung oleh berbagai pemeran yang menaikkan kualitas film ini, Rosario Dawson sebagai peran utama wanita, Woody Harrelson sebagai seorang pianis buta, Barry Pepper sebagai teman Tim/Ben, dan Connor Cruise (putra angkat Tom Cruise dan Nicole Kidman) sebagai Tim kecil.

Oh yah, bagi yang bingung sesudah menonton, kok kayaknya judulnya ngga nyambung: Judul film ini mengacu pada drama Shakespeare yang terkenal, The Merchant of Venice (juga sudah difilmkan tahun 2004 dengan Al Pacino). Dalam film itu Antonio, dituntut untuk membayar hutangnya dengan dagingnya. Dalam film ini, Seven Pounds (7 pon, setara dengan 3,5 KG) adalah jumlah yang “dibayar” oleh Will Smith untuk menebus “hutang”nya.

Just Kidding: Moral terpenting film ini adalah: Jangan membaca dan membalas Blackberry Anda sambil menyetir mobil!!

Enjoy this not so light film!

Read Full Post »